A TALE OF TWO CITIES, Kisah Cinta Di Revolusi Prancis

Novel drama klasik terkadang bisa membuat geregetan ketika membacanya, polemik yang ruwet dan berputar-putar pada satu titik salah satu penyebabnya. Begitu juga dalam kisah salah satu novel klasik legendari berjudul A Tale of Two Cities karya Charles Dickens.

Novel klasik itu mengambil latar dari revolusi Prancis yang terjadi pada kisaran 1789 sampai 1799. Revolusi Prancis adalah peristiwa di mana masyarakat Negeri Mode itu tidak percaya dengan kepemimpinan monarki atau kerajaan.

Titik awal cerita berawal dari perjalanan Jarvis Lorry bersama Lucie Manette dari Inggris ke Prancis. Mereka menuju Prancis untuk membawa pulang ayah Lucie, Dokter Mannete yang konon sudah dipenjara selama 18 tahun secara tidak adil.

Sebelum keberangkatan ke Prancis, Lucie malah mengira ayahnya itu sudah meninggal. Namun, dia bisa kembali menemui ayahnya di Prancis.

Hal itu terjadi setelah Lorry yang menemani Lucie ke Prancis bertemu dengan Mannete di sebuah kedai anggur milik Defarge. Mannete pun tinggal bersama pemilik anggur itu setelah lepas dari penjara, Defarge memberikannya tempat karena dulunya Mannete adalah bosnya saat masih aktif menjadi dokter.

 

Namun, Lucie menemui ayahnya dalam kondisi buruk. Mannete mengalami hilang ingatan akibat perlakuan buruk yang diterimanya selama di penjara.

Hanya ada satu hal yang diingat oleh sang dokter yakni 105 menara utara. Itu adalah nomor dan gedung tempat sel penjara Mannete di Bastile selama 18 tahun lamanya.

Lima tahun berlalu, kini Lucie kembali harus berhubungan dengan Prancis kembali. Dia bersama Mannate dijadikan saksi dalam sebuah pengadilan untuk memutuskan nasib pria asal Prancis Charles Darnay.

Lucie dan ayahnya dijadikan saksi karena berada di kapal yang sama dengan Darnay saat menuju kembali ke Inggris 5 tahun lalu.  Nah, Darnay pun masuk pengadilan sebagai tersangka mata-mata Prancis, dia dianggap punya misi melumpuhkan Inggris.

Hasil persidangan pun memutuskan Darnay bebas dari tuduhan. Keputusan itu ditetapkan setelah ada pengakuan Lucie dan aksi dua pengacara Darnay yakni, Stryver dan Sydner Carton. Dalam kisahnya, Sydney Carton begitu mirip dengan Darnay.

Menariknya lagi, Darnay dan Carton memiliki cinta yang sama yakni, Lucie. Namun, Darnay lebih dulu memiliki niat menikahi Lucie, sedangkan Carton memiliki latar belakang sosok yang pemalas, tukang mabuk, dan hal buruk lainnya bagai datang terlambat.

Carton yang sempat mengutarakan rasa cintanya kepada Lucie pun ditolak mentah-mentah. Anak Mannete itu lebih memilih Darnay.

Sayangnya, pilihan itu justru membawa Lucie ke permasalahan selanjutnya. Ternyata, Darnay memiliki latar belakang bangsawan Prancis yakni, dari keturunan keluarga Evremonde yang tengah digugat oleh masyarakatnya.

Marquis Evremonde, Paman Darnay, dideskripsikan sebagai sosok yang kejam. Dia tega melindas anak bayi petani dengan kereta kudanya.

Setelah melakukan itu, dia tidak merasa bersalah sehingga rakyat Prancis memberontak sampai membakar kastil dan membunuh Marquis.

Sebenarnya, Darnay sudah berbicara kepada Marnette terkait latar belakang keluarganya tersebut, tetapi ayah Lucie meminta agar dia tidak mengungkapkan kisah keluarganya itu kepada anaknya.

Gejolak Di Prancis

Setelah Darnay dan Lucie menikah, rakyat Prancis menggelorakan revolusi karena sikap kaum bangsawan yang dinilai semena-mena.

Gabelle, pengurus kediaman keluarga Evremonde di Prancis dimasukkan ke penjara oleh masyarakat sekitar. Gabelle yang panik pun langsung menulis surat kepada tuannya, Darnay, untuk meminta bantuan.

Darnay yang menerima surat itu pun langsung menjelaskan titik perkaranya, dia meminta izin kepada Lucie untuk ke Prancis. Namun, Lucie tidak mengizinkan karena situasi di sana sedang dalam suasana konflik.

Sayangnya, Darnay mengabaikan peringatan dari istrinya tersebut. Akhirnya, Darnay langsung tertangkap setelah sampai di Prancis karena masih dianggap salah satu bangsawan yang harus dihukum mati, dia pun langsung dibawa ke penjara.

Setahun di penjara, Darnay bebas karena Manette datang dari Inggris dan memanfaatkan kedekatannya untuk bisa menyelematkan menantunya tersebut.

Sayangnya, belum ada sehari, Darnay kembali tertangkap karena tuduhan dari keluarga Defarge, pemilik kedai anggur dan bekas asisten Dokter Manette. Keluarga Defarge memiliki bukti berupa surat pengakuan yang ditulis Manette selama ditahan dulu.

Dalam surat itu disebutkan alasan detail kenapa Manette dijebloskan ke penjara saat itu. Alhasil, Darnay yang dianggap memiliki hubungan dengan keluarga Evremonde pun diberikan hukuman mati, eksekusi akan dilakukan 24 jam setelah putusan sidang.

Pasca persidangan, Defarge pun kembali ke kedai Anggurnya dan merencanakan pembunuhan keluarga Manette. Pasalnya, keluarga Manette dianggap memiliki keterkaitan dengan bangsawan Evremonde setelah anaknya Lucie menikah dengan Darnay.

Di sini, Carton datang bak pahlawan menyelamatkan keluarga Manette, dia pun mengatur perjalanan keluarga dari perempuan yang dicintainya itu agar bisa keluar dari Prancis dan kembali ke Inggris.

Diadopsi Menjadi Film

Sangking legendarisnya, kisah A Tale of Two Cities ini sudah beberapa kali diadopsi menjadi film. Pertama kali diadopsi menjadi film dengan judul yang sama pada 1935, dan diadopsi kedua kalinya pada 1980.

Dalam uraian singkat sinopsis film itu pada 1980, disebutkan kisah menceritakan sosok Carton yang menjadi pengacara terbuang dan memilih membela seorang imigran Prancis, Darnay.

Namun, Carton justru terpesona dengan Lucie, yang menjadi istri Darnay. Cinta buta Carton itu pun yang membuat dia setuju membantu Lucie untuk menolong Darnay dari masyarakat Prancis yang tengah bergelora melakukan revolusi Prancis melawan monarki dan bangsawan.

Nah, lebih menarik mana film atau novelnya? buat tukang baca sih mending baca bukunya dulu deh. Baru, cari-cari filmnya, agak susah sih nyari film zaman dulu banget gitu.

BACA JUGA : Anna Karenina, Kisah Tiga Cinta Segitiga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *