RUMAH BACA KOMUNITAS, Baca Itu Hak Semua Orang

Kalau pendidikan adalah hak segala bangsa, berarti membaca pun adalah hak segala bangsa. Namun, akses membaca bagi masyarakat di Indonesia belum merata.

Selain itu, tingkat kesenjangan ekonomi mempersulit akses membaca bagi seluruh masyarakat Indonesia. Harga buku yang tinggi karena pajak berlapis dari pemerintah menjadi salah satu penyebabnya.

Namun, apakah semua harus menyerah dengan kondisi tersebut? bagaimana pun juga, membaca adalah hak segala bangsa.

Itu pendapat saya tentang membaca, selain menggiatkan minat baca, akses untuk bisa membaca pun harus segera dipermudah, termasuk menghilangkan pajak berlapis untuk industri buku meskipun pemerintah lagi butuh duit.

Seorang pria bersama dua anaknya (kiri) tengah memilih buku yang akan dibacanya, sedangkan seorang perempuan (kanan) tengah serius membaca buku. (Sumber: rumahbacakomunitas)

Salah satu komunitas penggiat literasi yang coba meningkatkan akses membaca kepada masyarakat adalah Rumah Baca Komunitas (RBK).

Dari situs resminya, rumahbacakomunitas.org , komunitas ini berdiri pada 2012 yang awalnya terdiri dari penggiat literasi dalam kelompok yang lebih kecil. Dari situs resminya itu disebut ada beberapa orang yang terlibat pada awalnya seperti Ahmad Sarkawi, Irfa Fahd Rizal, Fida Afif, Labib Ulinuha dan masih banyak lagi.

Dalam akun Goodreads RBK disebutkan salah satu pendiri dari RBK adalah David Efffendi, salah satu dosen di perguruan tinggi Yogyakarta.

Dari beberapa sumber pun menyebutkan, RBK lahir dari keprihatinan David terhadap masih terbatasnya akses buku dan membaca di masyarakat Indonesia.

David menilai untuk bisa mendapatkan akses membaca atau buku yang berkualitas butuh menjadi pelajar atau mahasiswa terlebih dulu. Untuk itu, agar akses membaca masyarakat lebih mudah dibutuhkan kanal-kanal baru, salah satunya RBK.

Dalam situs resminya, RBK pun memaparkan perjalanan komunitasnya itu yang secara konsensus mulai berdiri pada 2 Mei 2012. Hal pertama yang dilakukan komunitas itu untuk mempermudah akses membaca masyarakat adalah dengan mengumpulkan bahan literasi.

Rumah Baca Komunitas (RBK) di kantornya pada 16/3/2016. (sumber : rumahbacakomunitas )

Gerakan hibah itu dilakuan oleh Lembaga Pengembangan Sumberdaya Insansi (Lapsi) melalui program gerakan hibah buku nasional.

Dengan program itu, RBK bertujuan untuk menjadi wadah distribusi yang berperan merekomendasikan kepada pihak donatur untuk menyalurkan bukunya.

Selain itu, RBK juga mengambil peran sebagai perawat buku yang disebut juga memberdayakan buku, maksudnya komunitas itu akan mengoptimalkan buku yang dihibahkan agar bermanfaat bagi masyarakat.

Untuk itu bisa memenuhi dua tujuan itu, RBK pun menyediakan tempat akses buku 24 jam yang bisa dimanfaatkan oleh siapa saja.

Adapun, para penggiat literasi yang tergabung di RBK bebas mengusulkan dan menjalankan berbagai program untuk meningkatkan literasi di masyarakat.

Salah satu programnya adalah koin literasi, program itu bertujuan untuk meningkatkan minat baca anak. Jadi, dalam program itu setiap anak yang selesai membacca buku akan diberikan koin literasi.

Nantinya, koin itu bisa digunakan untuk mengakses komputer atau komik. Program itu diusulkan oleh Irfa dan disebut cukup menarik perhatian anak-anak yang biasa bermain di RBK.

Program literasi lainnya yakni Bimbingan Belajar Anak dan Remaja yang dilakukan dengan belajar bersama pada sore hari. Selain kegiatan belajar dan membaca, ada juga aktivitas melukis yang difasilitasi oleh Mas Turi, seorang karikatur majalah dan surat kabar.

Selain itu, aktivitas rutin di RBK lainnya yakni mengadakan nonton bareng film-film yang edukatif setiap sepekan sekali.

Meskipun pada 2012-an, fokus aktivitas RBK cenderung lebih banyak mendorong minat baca untuk anak-anak. Namun, pada 2013, RBK juga sering melakukan diskusi berbagai topik dan intens selama seminggu sekali yang disebut dejure (diskusi Jumat sore).

Kemudian, pada 2014 disebut menjadi babak baru RBK yang juga giat melakukan aksi sosial. Salah satunya adala apresiasi seni (Apsas) yang memiliki konsep seni yang berbeda karena kerap dilakukan spontan, tak direncanakan, dan hampir selalu berangkat dari kegelisahan mendadak.

RBK on the street atau Rots salah satu program gerakan sosial komunitas penggiat literasi tersebut. Komunitas menyediakan bahan bacaan yang bisa dinikmati oleh siapapun secara cuma-cuma ( sumber : rumahbacakomunitas )

Adapun pada 2015, RBK membuat gagasan baru hasil dari kesadaran bersama dengan penggiat literasi yang justru pihak komunitas belum pernah bertemu langsung dengan mereka. Dengan hubungan antara RBK dan beberapa penggiat literasi lewat tulisan, mereka sudah terhubung dan bisa melahirkan gagasan.

Beberapa gagasan itu antara lain, perpustakaan jalanan di Alun-alun Kidul (Alkid). Perpustakaan jalanan itu disebut RBK on the Street (Rots). Kegiatan itu pun terus bertahan karena dengan satu alasan yakni, senang melihat orang membaca.

“Sudah saatnya manusia Indonesia membangun narasi yang lebih manusiawi di bumi manusia,” kata David yang kerap disebut Cak David.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *