CONAN DOYLE, Penulis Kisah Detektif Legendaris

Pertama kali mengetahui sosok penulis Sir Arthur Conan Doyle itu ketika menonton film animasi Detective Conan. Kala itu, Shinichi Kudo yang menyusut menjadi anak kecil mencoba menyamarkan identitasnya kepada Ran Mouri, pacarnya.

Ketika ditanya oleh Ran terkait identitasnya, Shinichi melihat buku karya Sir Arthut Conan Doyle, dan karya penulis Jepang Edogawa. Jadi, dia menyebutkan namanya adalah Conan Edogawa, di mana kisah animasi Jepang itu juga disebut terinspirasi sosok Sherlock Holmes karya Conan Doyle.

Namun, seperti apa sosok sesungguhnya Sir Arthur Conan Doyle?

Selain penulis, Conan Doyle juga seorang dokter, hal ini seperti menggambarkan dirinya dalam kisah Sherlock Holmes yang menggunakan sudut pandang buku harian Watson, yang juga seorang Dokter.

Doyle pun mulai rajin menulis sejak dalam pendidikan kedokterannya. Dia mula mencoba menulis beberapa cerita pendek dan terus berkembang secara perlahan.

Cerita pertama dan dinilai cukup dramatis yang dibuatnya berjudul The Surgeon of Gangster Fell. Pada tahun kedua, Doyle lanjut menulis cerita fiksinya, kali ini dengan judul The Mistery of Sasassa Valley.

Pada cerita keduanya itu, karya Doyle dimuat pada sebuah majalah di Edinburgh yakni, Chamber’s Journal. Di tahun yang sama, dia kembali menerbitkan cerita lainnya yang berjudul The American Tale yang dimuat di London Society.

Pasca banyak karyanya yang dimuat, Doyle disebut semakin bersemangat untuk menulis dan berkarya lebih banyak lagi.

Lalu, memasuki tahun ketiga pendidikan dokternya, Doyle yang sudah berumur 20 tahun kala itu menawarkan diri untuk ikut dalam kapal doketer bedah bernama Hope, sebuah kapal penangkap paus.

Bersama awak kapal Hope, Doyle berangkat ke kutub utara dan sempat berhenti di Greenland, di mana itu adalah tempat yang asyik untuk berburu anjing laut.

Doyle begitu menyukai pengalaman memburu ikan paus bersama kapal Hope tersebut. Akhirnya, petualangannya itu pun dituangkan dala sebuah cerita berjudul Captain of the Pole Star.

Petualangan lainnya yang ditulis Doyle menjadi cerita adalah ketika dia memutuskan ke Afrika untuk membuka praktek di sana pada 1882, karena kala itu banyak sekali orang yang sakit di sana.

Sayangnya, Doyle tidak terlalu betah di sana sehingga dia kembali pulang ke Inggris. Setelah kembali ke kampung halamannya, dia pun menulis kisahnya di Afrika dengan judul cerita The Stark Munro Letters.

Awal Mula Sherlock Holmes

Ketika kembali ke Inggris, Doyle langsung menyewa rumah di daerah Southsea demi membuka praktek dokternya. Kala itu, dia sudah kehabisan uang, tetapi dengan kerja kerasnya melakukan praktek dokter itu, dia sudah mendapatkan penghasilan yang cukup.

Ilustrasi penggambaran sosok Sherlock Holmes (Kanan) dengan Watson (Kiri). Holmes, tokoh detektif kenamaan karya Conan Doyle ini digambarkan tengah menghisap cerutu (Sumber : BBC)

Pada 1885, Doyle disebut salah satu dokter yang sukses, dengan kemapanan yang sudah dimiliki, Dia pun menikahi gadis muda bernama Louisa Hawkins, perempuan muda itu disebut seorang yang pemberani, ramah, dan baik hati.

Pasca menikah, jadwal praktek Doyle pun semakin padat. Tepatnya pada Maret 1886, di sela-sela jadwal sibuk prakteknya, Doyle mulai menulis lagi.

Dia menulis sebuah novel berjudul A Tangled Skein dengan tokoh utamanya bernama Sheridan Hope dan Ormond Sacker. Sayangnya, novelnya itu tidak begitu terkenal.

Melihat kurang menarik peminat, Doyle pun mengganti judul dan tokoh novelnya itu menjadi Study in Scarlet dengan sosok tokoh utamanya Sherlock Holmes dan Dr. Watson. Setelah berganti nama itu, novel besutan Doyle langsung laris di seluruh Inggris Raya.

Doyle kian semangat melanjutkan kisah Sherlock Holmmes dengan menelurkan dua kisah selanjutnya yang berjudul Micah Clark dan The Mistery of Cloomber. Kedua karyanya itu pun tak kalah diminatinnya dengan karya seri Sherlock Holmes yang pertama.

Bahkan, sosok Sherlock Holmes adalah tokoh fiksi paling komersial dan laris serta terkenal di mana pun. Bahkan, pada 1889, sosok Holmes lebih terkenal di Amerika dan belahan dunia lainnya.

Alhasil, Doyle mendapat penghargaan Oscar Wilde terkait kesuksesannya tersebut. Banyak penggemar di seluruh dunia meminta agar Doyle terus melajutkan cerita detektif tersebut.

Sayangnya, pada Mei 1891, kondisi Doyle memburuk setelah terkena influenza mematikan. Dia terbaring di umah sakit denngan kondisi antara hidup dan mati selama tujuh hari.

Cerita Sherlock Holmes pun sempat terhenti karena sang penulis membutuhkan istirahat. Akhirnya, dokter menyarankan Doyle agar bisa membagi waktu antara dunia kedokteran dengan sastra agar tidak mudah sakit lagi.

Ketika pada 1892, istrinya Louisa melahirkan anak pertama mereka [Doyle dan Louisa] yang diberi nama Kingsley. Doyle mulai merasa bosan dengan tokoh Sherlock Holmes.

Akhirnya, pada Desember 1893, dia menuliskan kisah terakhir Sherlock Holmes yanng tewas bersama Prof. Moriarty, sang antagonis, dalam pertarungan air terjun Reichenbach lewat judul ceritanya The Final Problemyang diterbitkan oleh majalah The Strand.

Illustrasi akhir kisah Sherlock Holmes yang harus tewas bersama musuh bebuyutannya Prof. Moriarty di air terjun Reichenbach. (Sumber : Bodahub)

Setelah mengakhiri nasib tokoh utama cerita andalannya itu, Doyle pun lebih serius menekuni dunnia kedokterannya tersebut.

Lalu, kisah ceritanya bertambah lagi pada 1986 ketika Doyle bersama Louisa pergi ke Mesir. Dalam perjalanannya ke Negeri Fir’aun tu, dia pun mendapatkan ide untuk membuat cerita yang berjudul The Tragedy of the Korosko.

Setelah tokoh utama Sherlock Holmes dimatikan Doyle beberapa tahun lalu, dia mendapatkan permohonan izin untuk pembuatan film tentang tokoh fiksi detektif kenamaan karyanya tersebut. Doyle pun setuju dan dia sendiri yang membuat naskah tokoh dari karya besarnya tersebut.

Doyle semakin jarang menulis cerita setelah terjadi perang Boer pada 1900. Kala itu dia mengajukan diri sebagai tim medis sukarelawan yang membantu perang tersebut.

Doyle berangkat ke Afrika pada Februari 1900, di sana pun dia juga harus pandai berperanng dan berjuanng sambil menyembuhkan prajurit yang terluka.

Setelah selama beberapa bulan di Afrika, Doyle menyadar bayak sekali rekan prajurit dann dokter yang tewas dalam perang tersebut. Akhirnya, Doyle kembali menulis, tetapi bukan bercerita melainkan artiikel berjudul The Great Boer War.

Perang sudah berakhir, Doyle kembali ke Inggris dan beristirahat sejenak selama beberapa bulan. Penggemar cerita karya Doyle meminta sang dokter kembali menulis cerita karena sejak perang boer dia vakum bercerita.

Doyle pun akhirnya membuat sebuah cerita bersambung yang diterbitkan pada majalah The Strand dengan judul The Hound of the Baskervilles pada Agustus 1901.

Meskipun cerita bersambung anyarnya disebut penuh sensasi, tetapi para penggemarnya bahkan Raja Edward VII meminta Doyle menghidupkan kembali sosok Sherlock Holmes.

Doyle disebut tidak bisa menolak permintaan Raja Edward VII sehingga paada 1903 membuat cerita berjudul The Return of Sherlock Holmes di majalah The Strand.

Semua tulisan cerita dengan tokoh Sherlock Holmes pun dikumpulkan dalam novel yang berisi berbagai kisah pendek.

Beberapa novel kumpulan cerpen karya Doyle dengan tokoh Holmes antara lain seperti Study in Scarlet, The Sign of Four, The House of Temperley, The Valley of Fear, The Lost Word, The Adventure of Sherlock Holmes, Memoir of Sherlock Holmes, The Final Adventure of Sherlock Holmes, The Return of Sherlock Holmes, dan Casebook of Sherlock Holmes.

Sang Inspirator

Dalam sepanjang karirnya sebagai penulis, Doyle memiliki beberapa inspirator. Seperti, hobi menulis disebut diturukan dari ibunya Mary Foley.

Dr. Joseph Bell, menjadi sosok yang menginspirasi Conan Doyle dalam menciptakan tokoh Sherlock Holmes yang masih dikenal sampai saat ini. (Sumber : Wikipedia)

Mary Doyle, nama belakangnya berubah setelah menikah dengan Charles Altamont Doyle, sangat tertarik dengan hal yang berhubungan dengan buku. Bahkan, Mary disebut juru cerita yang sangat baik.

Dia pun bekerja sebagai pengarang cerita untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Pasalnya, Charles, Suaminya seorang pemabuk berat dan menjadi satu-satunya keluarga Doyle yang memisahkan diri dari Arthur.

Padahal keluarga Doyle adalah kelompok keluarga Katolik-Irlandia yang kaya dan bekembang di lingkungan Seni.

Mary yang dinikahkan pada umur 17 tahun itu pun berjuang untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Pasalnya, saat itu dia hanya memiliki sedikit uang dengan keluarganya, sedangkan Ayah Mary tidak mendukung aktivitas anaknya tersebut.

Bahkan, untuk sekolah Conan Doyle, Mary mendapatkan bantuan biaya dari sanak saudaranya.

Bukan hanya ibunya, Doyle memiliki banyak inspirator dalam mengarang cerrita. Seperti, James Barrie dan Robert Louis Stevenson yang sangat terkenal dalam bidang puisi.

Kedua orang itu pun berada dalam lingkungan yang sama dengan Doyle, yakni kedokteran.

Namun, ada satu sosok yang membuat Doyle terkesan dan percaya tanpa ragu. Sosok ini pun nantinya yang mengilhami Doyle dalam membuat sosok populer lintas zaman, Sherlock Holmes.

Dia adalah Dr. Joseph Bell, dokter hebat dan sangat ahli dalam observasi, logika, deduksi, dan diagnosa.

Misteri Jean Leckie

Masih ingat perjalanan Doyle dengan istrinya Louise ke Mesir pada 1896, di mana setelah dari Negeri Fir’aun itu, Doyle membuat cerita berjudul The Tragedy of the Korosko?

Ternyata setelah kembali ke Inggris, Doyle disebut bertemu dengan perempuan cantik berumur 24 tahun bernama Jean Leckie pada Maret 1987.

Hubungan keduanya disebut kian erat dan Leckie telah menjadi rekan kerja dan teman baik Doyle.

Conan Doyle bersama Jean Leckie dan ketiga anaknya saat mengunjungi New York pada 1926. (Sumber : biografi Conan Doyle)

Di tengah hubungan antara Doyle dengan Leckie, Louisa meninggal karena sakit pada 4 Juli 1906. Doyle disebut mengalami duka sangat mendalam ketika istrinya meninggal, tetapi Leckie datangan untuk menyemangati sang maestro.

Doyle yang kembali sendiri terus mendapatkan semangat dari Leckie, hubungan keduanya pun disebut kian erat. Akhirnya, mereka berdua menikah secara diam-diam.

Pada September 1907, Doyle baru mengumumkan pernikahannya dengan Leckie. Perempuan yang ditemui pada akhir abad ke-18 itu yang menemani Doyle hingga akhir hayatnya.

Conan Doyle pun meninggal pada 7 Juli 1930 setelah terus mengalami sakit-sakitan karena faktor usia. Sebelum meninggal, Doyle mengatakan sesuatu kepada Leckie, istrinya.

“Sesuatu yang terhebat dan paling berharga dari seluruh petualanganku, kamulah yang menakjubkan,” ujarnya sambil berbisik kepada istrinya.[JNS]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *