TO KILL A MOCKINGBIRD, Pelajaran ‘tuk’ Orang Tua

To Kill a Mocking Bird karya Harper Lee sempat disebut salah satu novel yang wajib dibaca sebelum meninggal. Namun, ternyata novel ini bukan hanya wajib dibaca karena ceritannya, tetapi juga karena kisah di dalamnya memberikan nilai-nilai moral.

Dalam karya Harper Lee itu, dia menceritakan sosok Atticus Finch sebagai seorang duda yang memiliki dua anak yakni Jem Finch dan Jean Louise Finch. Mereka bertiga tinggal di rumah juga bersama seorang pembantu bernama Calpurnia dan tinggal di pemukiman tua pinggiran Alabama, Amerika Serikat (AS).

Atticus ini berprofesi sebagai pengacara lokal yang dikenal dan digambarkan tidak pernah membeda-bedakan kasus yang dibelanya.

Scen film To Kill a Mocking BIrd di mana Atticus memutuskan membela orang kulit hitam yang dituduh memperkosa orang kulit putih (Sumber : Bussines Insider)

Sikapnya itu  pun ditunjukkan juga kepada anak-anaknya, dengan gaya egaliternya, dia mendidik dua putra dan putrinnya itu tanpa keberpihakan kepada salah satu dari mereka.

Nah, dari ulasan singkat tentang kisah keluarga Atticus dalam novel To Kill a Mocking Bird  mulai tampak sedikit sisi nilai-nilai yang bisa dipelajari oleh para orang tua.

Seperti dilansir BBC Indonesia, Atticus pun membesarkan dua anaknya itu dengan sikap tenang dan terbuka. Dia  digambarkan sosok  yang tidak pernah memukul kedua anaknya itu, serta tidak pernah berteriak memarahi mereka.

Atticus selalu memberikan jawaban yang jujur untuk semua pertanyaan sulit  yang dilontarkan oleh kedua anaknya tersebut.

Paling utama, Atticus memiliki filsafat dalam membesarkan kedua anaknya  itu yang juga menjadi jalan cerita novel Harper Lee tersebut. Filsafat itu yakni, Aticus ingin menjadikan dirinya sebagai contoh perilaku kehidupan yang bisa diikuti anak-anaknya.

Scene ketika Atticus sedang bersama kedua anaknya (Sumber : NBC News)

Nah, sekilas  dari  itu, sudah mulai terbaca dong arah  pelajaran yang bisa diambil oleh orang tua  dari novel ini?

Pertama, ketika benar, tidak usah takut dengan mayoritas, tetapi tetap menghargai pendapat orang lain yang tidak sesuai. Intinya, pratekkan nilai-nilai hati  nurani dan tetap dengarkan pendapat orang lain.

Hal  ini tampak ketika Atticus membela seorang pria kulit hitam yang dituduh memperkosa perempuan berkulit putih. Anak perempuannya pun memberi tahu ayahnya kalau keputusan itu dinilai salah oleh masyarakat kota.

Namun, Atticus merespons anaknya dengan berkata, “Mereka berhak mempunyai pendapat mereka sendiri.”

Lalu, dia melanjutkan, sebelum dirinya bisa hidup dengan orang lain, dia harus bisa hidup dengan dirinya sendiri. “Ketika ada sesuatu  yang tidak sesuai dengan keputusan mayoritas, berarti itu adalah keputusan hati nurani seseorang,” lanjutnya.

Kedua, mengajarkan untuk bisa  melihat permasalahan dari dua sisi. Dengan profesinya sebagai pengacara, Atticus memang mencoba melihat situasi apapun dari kedua sisi. Hal itu pun diterapkannya juga dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam petikan kisah novel karya Harper Lee itu tergammbarkan ketika putri Atticus mengalami masalah pada hari pertama sekolah. Pasalnya, putrinya itu sudah bisa membaca karena memang diajarkannya  sejak kecil.

Dalam melihat sekolah yang mempermasalahkan putrinya yang sudah membaca itu, Atticus  pun meminta anaknya melihat permasalahan ini dari sudut pandang guru dan dari sisi proses belajarnya di sekolah.

Dengan melihat permasalahan dari kedua sisi, kemungkinan permasalahan itu bisa diselesaikan lebih cepat dan tanpa  adanya ketegangan.

Ketiga, sebagai orang tua, sewajibnya memberikan rasa tenang kepada anak-anak dalam kondisi kritis seperti apapun.

Hal itu terdapat dalam kisah ketika ada anjing gila karena penyakit rabies jalan terhuyung-huyung di dekat rumahnya. Atticus pun dengan tenang dan singkat menembak mati anjing tersebut, anak-anaknya mengaku kagum karena ayahnya tidak pernah bercerita memiliki kemampuan mumpuni dalam menembak.

Dalam berbagai  keadaan sulit, Atticus kerap menenangkan anaknya dengan kalimat, “Saat ini bukan waktunya untuk khawatir.”

Hal itu diucapkan dengan tenang walaupun situasinya bisa membuat panik dan mengkhawatirkan.

Keempat, mencari waktu yang tepat untuk menjawab pertanyaan anak-anak dengan jawaban sesungguhnya atau meminta mereka mencari jawabannya sendiri.

Atticus menjadi sosok ayah  yang percaya kalau anak-anaknya akan bisa menemukan jawaban dari pertannyaan mereka sendiri. Jadi, dia kerap memberikan peluang kepada anak-anaknnya untuk menemukan jawabannya sendiri.

Namun, dia juga tak  segan menjawab pertannyaan anaknya dengan jujur. Seperti, ketika anak perempuannya  bertanya terkait arti istilah pemerkosaan, dia menjawabnya dengan definisi hukum yang akurat  dan putrinya pun puas.

Kelima, sebagai orang tua, tidak perlu menjadi ‘sok’ jagoan untuk terlihat berani.

Dalam petikan novel karya  mediang  Harper Lee itu, putra dan putrinya kerap diejek oleh tetangganya Nyonya Dubose setiap mereka melewati rumah ibu paruh  baya tersebut.

Mengetahui hal itu, Atticus bukannya  marah ke Dubose untuk membela anaknya, tetapi malah mengatakan agar anaknya tetap santai, percaya diri, dan tetap sopan.

“Apa  yang dikatakannya kepada kamu, abaikan saja, jangan sampai membuat emosimu naik  karena itu tujuannya,”  ujarnya.

Hasilnya, strategi Atticus  itu  berhasil mengalahkan Dubose hanya lrwat senyum dan pujiannnya. Putrinya pun bingung dan menilai kalau ayahnya  adalah  orang yang paling berani di dunia walaupun dia benci senjata dan tidak pernah ikut perang.

Nah,  itu semua mungkin bisa  sedikit jadi pembelajaran untuk para  orang tua  kepada anaknya. [SRY/BBC]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *