Y.B MANGUNWIJAYA, Sastra Sejarah dan Arsitektur

Saat berjalan-jalan di Gramedia Matraman, saya menemukan buku novel sejarah dengan judul Ikan-Ikan Hiu, Ido, Homa karya Y.B Mangunwijaya. Sebuah novel sejarah tentang kebudayaan masyarakat Halmahera, Maluku Utara.

Tertarik dari segi judul novel dan sampulnya yang seperti, benar-benar menggambarkan isi novel.

Di lain waktu, ketika itu saya sedang melihat-lihat buku di Gramedia Grand Indonesia, saat berada di barisan novel Indonesia, saya melirik roman yang berjudul Burung-burung Manyar karya Y.B Mangunwijaya.

Sampai berniat menulis tentang Y.B Mangunwijaya, saya sungguh tidak sadar kalau dua buku yang saya beli itu adalah karyanya. Memang keduanya baru saya baca setengah karena tak ingin sia-sia membacanya kalau tidak bisa diresapi setiap kalimatnya.

Dua buku karya Y.B Mangunwijaya berjudul Burung-burung Manyar dan Ikan-ikan Hiu, Ido, Homa terbitan terbaru. (Sumber : foto pribadi)

Kedua novel karya Y.B Mangunwijaya itu begitu detail dalam menjelaskan deskripsi cerita sehingga bila dibaca sambil lalu, rasanya akan sayang saja.

Berbicara Y.B Mangunwijaya, dari beberapa sumber dia disebut salah satu penulis atau sastrawan angkatan 1980-an. Selain dua judul yang saya sebutkan, Y.B Mangunwijaya juga menerbitkan beberapa judul novel lainnya, seperti, Roro Mendut dan Durga/Umayi.

Adapun, karyanya yang berjudul Burung-burung Manyar menjadi yang salah satu terkenal setelah mampu menyabet penghargaan sastra se-Asia Tenggara Ramon Magsaysay pada 1996, atau tiga tahun sebelum Y.B Mangunwijaya meninggal pada 1999.

Mangun wafat pada 10 Februari 199 karena serangan jantung setelah memberikan cerama dalam seminar Meningkatkan Peran Buku dalam Upaya Membentuk Masyarakat Indonesia Barudi Hotel Le Meridien, Jakarta.

Novel Burung-burung Manyar karya Mangun yang mendapatkan penghargaan se-Asia Tenggara itu pun berkisah tentang kehidupan setelah masa kemerdekaan 17 Agustus 1945. Saat itu, sedang gencar agresi militer Belanda, Mangunwijaya benar-benar menggambarkan deskripsi dan emosi cerita yang cukup detail.

Ketika melihat novel Mangunwijaya, mayoritas menyoroti tentang sejarah antara sejarah nasional maupun budaya seperti dua buku karyanya yang saya punya.

Kalau ditilik sejarah Mangunwijaya, dia memang memiliki ketertarikan dengan sejarah sejak masa sekolah.

Khusus Burung-burung Manyar, karyanya memang sangat mendalami situasi yang mungkin juga dipenuhi oleh pengalamannya berpartisipasi dalam membela Indonesia pada agresi militer Belanda pasca kemerdekaan.

Ketika masuk ke STM Jetis pada 1943, Yogyakarta, pada saat yang sama dia ikut Kingrohosi yang diadakan tentara Jepang di kota pelajar tersebut. Dari situ dia mulai tertarik mempelajari sejarah dunia dan filsafat.

Sayangnya, pada 1944 STM Jetis dibubarkan dan dijadikan markas perjuangan tentara Republik Indonesia (RI). Mangunwijaya pun ikut terlibat dalam aksi-aksi seperti perjuangan merebut kemerdekaan, dia ikut dalam mencuri mobil tentara Jepang.

Pada 1945, dia pun ikut menjadi tentara keamanan rakyat (TKR) batalyon X divisi III, dan betugas di asrama militer Benteng Vrederburg dan di asrama militer Kotabaru, Yogyakarta.

Penulis yang juga kerap dipanggil Romo Mangun itu pun ikut berjuang dalam pertempuran di Ambarawa, Magelang, dan Mranggen.

Setahun kemudian, Mangun melanjutkan sekolah di STM Jetis dan bergabung menjadi prajurit Tentara Pelajar, serta pernah bertugas menjadi supir pendamping panglima perang Sri Sultan Hamengkubuwono IX.

Pada 1947, Mangun pun lulus juga dari STM Jetis dan memasuki Agresi Militer Belanda I, dia tergabung dalam TP Brigade XVII sebagai komandan TP Kompi Kedu.

Ketika memasuki 1950, dia pun masuk SMU-B Santo Albertus, Malang dan terpilih menjadi pemuda Katolik yang menghadiri perayaan kemenangan Indonesia di alun-alun kota Malang.

Di sana, Mangun mendengar pidato Mayor Isman yang disebut menjadi pengaruh utama masa depan sang penulis tersebut.

Dunia Arsitektur

Tak hanya tertarik pada dunia sejarah dan juga menjadi patisipan dalam perjuangan Indonesia mempertahankan kemerdekaan dari aksi Agresi Militer Belanda saja, tetapi Mangun juga memperdalam ilmu lainnnya, yakni arsitektur.

Salah satu sudut bantaran Kali Code, Yogyakarta, penataan pemukiman kumuh ini dilakukan oleh Mangunwijaya sebagai arsitekturnya. (Sumber : Jagalancode)

Pada 1959, dia melanjutkan pendidikan di Teknik Arsitektur Institut Teknologi Bandung (ITB), setelahnya dia terus mendalami pendidikan arsitektur di Rheinisch Westfaelische Technische Hochschule, Aachen, Jerman, pada tahun 1960.

Keberadaan Mangun di dunia arsitektur pun bukan hanya formalitas saja, dia beberapa kali mendapatkan penghargaan dari bidang tersebut.

Pada 1992, Mangun mendapatkan penghargaan The Aga Khan untuk arsitektur pemukiman warga di Kali Code, Yogyakarta.

Hasil jerih payah mengubah pemukiman miskin di tepi Kali Code itu pun telah mengangkatnya sebagai salah satu arsitek terbaik di Indonesia.

Menurut Erwinthon P. Napitupulu, menyebutkan Romo Mangun termasuk dalam 10 arsitek Indonesia terbaik. Erwinthon ini adalah penulis buku tentang Mangun yang diterbitkan pada 2011 silam.

Selain penghargaan The Aga Khan, dia juga menerima penghargaan The Ruth and Ralph Erskine Fellowship pada tahun 1995, sebagai bukti dari dedikasinya terhadap wong cilik.

Adapun, karya arsitektur Mangun lainnya antara lain, Kompleks Religi Sendangsono di Yogyakarta, dan Gedung Keuskupan Agung yang berada di Semarang.

Selain itu, karya arsitekturnya juga terlihat pada Gedung Bentara Budaya Jakarta, Gereja Katolik Jetis Yogyakarta, Gereja Katolik Cilincing Jakarta, Markas Kowihan II Biara Trappist Gedono Salatiga, Semarang.

Lalu, ada juga Gereka Maria Assumpta di Klaten dan Gereja Maria Sapta Duka di Mendut.

Mangun pun sempat mendirikan laboratorium Dinamika Edukasi Dasar (DED). Model pendidikan DED ini pun diterapkan pada SD Kanisiun Mangunan, Kalasan, Sleman, Yogyakarta pada 1994.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *