PERAHU PUSTAKA, Menjangkau Bocah Di Pulau Kecil

Perahu Pustaka yang membawa tumpukkan buku bergerak menyandar ke Desa Mampie, Sulawesi Barat. Beberapa anak tampak berada di belakang pohon tepi pantai menyaksikan bersandarnya perahu itu di tepi pantai desa tersebut.

Ridwan Alimuddin dan beberapa awak kapal menyandarkan perahu kayunya di pohon bakau dan ditambatkan pada timbunan kulit kerang. Dengan cukup kesusahan, Ridwan berjalan menuju daratan sambil membawa tikar plastik serta tumpukkan buku, mereka mencari tempat yang enak untuk anak-anak berkumpul.

anak-anak di pulau-pulau pinggir Sulawesi menikmati membaca buku yang dibawakan oleh Perahu Pustaka

Selaras dengan kehadiran Ridwan dkk, Para pengupas kulit kerang di pesisir Mampie pun sontak menghentikan pekerjaan rutinnya tersebut.
Dalam hitungan tak lebih dari 20 detik, anak-anak yang tadinya mengintip dari balik pohon, kini mulai bergerak menuju posisi Ridwan berada.

Setelah, Ridwan menggelar tikar dan meletakkan buku-buku siap dibaca, anak-anak itu menyerbu komik. Beberapa lainnya juga menyerbu buku bergambar yang di tulis dengan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.

Tiga jam berlalu, Perahu Pustaka siap lepas landas dari Desa Mampie ke tujuan selanjutnya, yaitu Pulau Battoa, yang dihuni oleh sekitar 2.000 warga.

Seperti dilansir BBC Indonesia, Ridwan mengatakan keputusan membuat perahu pustaka secara pribadi berdasarkan penggabungan dua kegemarannya, yakni buku dan perahu.

Tujuannya pun membawa buku-buku menarik dan layak baca untuk anak-anak di wilayah desa nelayan dan pulau-pulau terpencil sekitar Sulawesi.

Di sisi lain, sejauh ini Ridwan melihat perkembangan melek huruf dan kegemaran membaca hampir tidak ada pada daerah terpencil di kawasan Sulawesi. Penyebabnya, antara lain fasilitas seperti perpustakaan dan buku yang sulit didapatkan.

Sementara itu, dari balik layar, kehadiran Perahu Pustaka berawal dari mimpi Nirwan Ahmad Arsuka yang ingin membangun perpustakaan keliling untuk menyebarkan bacaan kepada anak-anak di daerah yang sulit terjangkau.

Dari situs perahupustaka.com disebutkan Nirwan menghubungi Ridwan dan Kamaruddin Azis terkait inisiatif perahu berisi buku tersebut.

Lalu, setelah berdiskusi, akhirnya perahu dipilih menjadi kendaraan pembawa buku. Alasannya, perahu kayu cukup stabil di perairan dan mampu membawa banyak buku.

“Dalam penetapan kendaraan yang digunakan untuk mobilisasi itu, ada satu yang paling penting, yaitu biayanya harus murah karena dana terbatas,” ujarnya.

Perahu Ba’go jenis kargo tradisional pun dipilih karena secara historis perahu itu mampu mengangkut beras sampai ke seberang pulau sekitar selat Sulawesi.

Beberapa anak memburu buku bacaan yang ditawarkan oleh perahu pustaka

Nirwan menitipkan uang yang akan digunakan untuk membuat kapal kepada Ridwan. Selanjutnya pembuatan kapal dilakukan di Lapeo, Mandar dengan dimensi perahu 10 meter dan bagian tengah 2,5 meter.

Kemudian, pembuatan perahu itu pun dikebut dalam 30 hari. Pasalnya, perahu itu mesti mulai berlayar untuk memeriahkan MIWF, festival internasional penulis yang digelar lima tahun terakhir di Makassar.

Perahu Ba’go itu pun diberikan nama I Mangngadaccinna Daeng I Ba’le’ Sultan Mahmud Karaeng Pattingalloang, perdana menteri Kerajaan Gowa yang tersohor karena kegilaannya pada ilmu pengetahuan.

Adapun, Nirwan menyebutkan dengan Perahu Pustaka ini, harapannya bukan sekedar menyebarkan bahan bacaan ke wilayah yang tidak terjangkau, tetapi juga membangun budaya maritim.

“Perahu ini juga membuka kemungkinan bagi penulis untuk ikut berlayar dalam waktu-waktu tertentu sehingga tulisan-tulisan tentang laut bisa lebih mendalam jika merasakan perjalanannya langsung,” sebutnya.

Sejauh ini pun, tidak terlalu banyak tulisan-tulisan mengenai laut di dunia sastra. Dalam khasanah sastra dunia, ada dua yang mengemuka, yakni Moby Dick karya Herman Melville dan The Old Man and The Sea karya Ernest Hemingway.

Nah, dari Indonesia pun masih sebatas pandangan orang darat tentang laut. Roman Arus Balik karya Pramoedya Ananta Toer sebagai salah satu contoh yang menunjukkan perspektif tersebut. Nirwan pun berujar, “Jangan-jangan sastra tentang laut dari Asia memang sangat kurang?”

Selain karya Pramoedya, ada pula Ikan-ikan Hiu, Ido, Homa karya Y. B Mangunwijaya yang mungkin punya perspektif daratan tentang laut.

Mungkin Perahu Pustaka nantinya selain bisa menyebarkan buku-buku kepada anak-anak di wilayah terpencil, juga bisa menggairahkan pustaka kelautan lebih dalam dan banyak lagi. Apalagi, ada sebuah lagu masa kecil tentang Nenek Moyangku Seorang Pelaut, ditambah sejarah Kapal Phinisi yang melegenda ke seluruh dunia menggambarkan betapa besar potensi maritim di Indonesia. [SRY/BBC]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *