PUTU WIJAYA, Dari Nulis sampai Seni Peran

Waktu zaman sekolah 12 tahun pas Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekoloh Menengah Atas, di perpustakaannya suka ada novel atau roman tua karya sastrawan senior Indonesia.

Sempat teringat ada karya Mochtar Lubis yang berjudul Harimau! Harimau!, dan petikan dari novel itu kerap dijadikan materi ujian pelajaran Bahasa Indonesia.

Mungkin, karena masih kecil juga jadi tidak terlalu tertarik membaca buku seperti novel yang isinya tulisan semua.

Beranjak menjadi mahasiswa, justru malah mencari novel-novel lawas tersebut. Ada beberapa penerbit yang menerbitkan novel lawas itu dalam kemasan baru, tetapi tak jarang juga saya lirik-lirik toko buku bekas untuk mendapatkannya.

Putu Wijaya menampilkan monolog untuk membuka gelaran festival seni surabaya (FSS) pada Rabu 28 Juli 2010. (Sumber : ranggaimages)

Nah, kali ini mau membahas tentang penulis legendaris atau lawas Indonesia. Kan kalau dalam pelajaran Bahasa Indonesia, sastrawan itu ada angkatan-angkatannya, seperti kayak sekolah. Kali ini, saya mau sedikit bahas tentang sastrawan angkatan 1970-an yakni, I Gusti Ngurah Putu Wijaya, nama ringkasnya Putu Wijaya.

Putu Wijaya disebut dari beberapa sumber memang menggemari dunia sastra sejak masih remaja. Seperti, pada SMP, dia mulai menulis cerita pendek dan karyanya kerap naik cetak di surat kabar lokal Bali, Suluh Indonesia.

Semasa SMA, dia pun memperluas wawasannya dengan bergabung kegiatan sandiwara.

Wawasan Putu Wijaya tentang seni semakin diperluas lagi setelah ketika kuliah di Yogyakarta, dia juga mempelajari seni lukis di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI). Tak hanya seni rupa, dia juga memperdalam seni peran lewat Akademi Seni drama dan Film (Asdrafi).

Sayangnya tidak semua akademi itu dia selesaikan, untuk kuliahnya di fakultas hukum UGM, dia berhasil meraih gelar sarjana pada 1969. Namun, Putu Wijaya gagal menyelesaikan Asdrafi setelah gagal dalam penulisan skripsi.

Meskipun begitu, dengan dia menjamah ilmu di ASRI, Asdrafi, dan tetap menekuni kegiatannya dalam bersastra, Putu Wijaya sudah dikenal sebagai seniman.

Di sela-selanya, sibuk mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM) itu dan mengikuti akademi seni, Putu Wijaya tetap rajin melakukan kegiatan bersastranya.

Untuk kegiatan sastra selama di Yogyakarta, Putu Wijaya lebih fokus pada teater. Dia pernah tampil bersama Bengkel Teater pimpinan W.S. Rendra dalam beberapa pementasan, seperti Bip-Bop pada 1968 dan Menunggu Godot pada 1969.

Selain itu, dia juga pernah tampil bersama kelompok Sanggar Bambu yang punya kegiatan seni dari peran, musik, puisi, sampai seni rupa. Untuk bidang terakhir, yakni seni rupa disebut menjadi fokus utama kelompok sanggar Bambu yang didirikan pada 1959.

Pada 1969, Putu Wijaya juga sudah mulai berani tampil dalam karyanya sendiri yakni, drama yang berjudul Lautan Bernyanyi. Dalam sastra seni peran itu, dia menjadi penulis naskah sekaligus sutradara pementasan.

Naskah dramanya itu pun menjadi pemenang ketiga dalam sayembara penulisan lakon yang diselanggarakan oleh Badan Pembina Teater Nasional Indonesia.

Dengan pengalamannya yang lebih banyak pada seni peran semasa kuliah. Putu WIjaya pun beberapa kali menjadi penulis skenario maupun sutradara dari beberapa film dan sinetron pada era 1980–1990-an.

Beberapa skenario film dan sinetron karya Putu Wijaya yang meraih penghargaan seperti, Perawan Desa mendapatkan gelar Piala Citra FFI 1980, Kembang Kembangan memperoleh Piala Citra FFI 1985, dan satu sinetronnya berjudul Dukun Palsu yang memenangi penghargaan sebagai komedi terbaik pada FSI 1995.

Dari berbagai sumber, tercatat ada sembilan film yang skenarionya digarap oleh Putu Wijaya. Untuk sinetron jumlahnya lebih banyak lagi, yakni sebanyak 20 sinetron, sedangkan untuk karya dramanya sebanyak 27

Meskipun begitu, tidak berarti Putu Wijaya hanya fokus pada seni peran saja, tetapi tak sedikit juga karyanya terkait novel, cerpen, dan esai.

Untuk novel, Putu Wijaya sudah menerbitkan sekitar 28 judul novel dengan beberapa judul sama dengan film dan sinetron yang ditulis skenarionya oleh sastrawan angkatan 1970-an tersebut.

Judul novelnya yang pertama yakni Bila Malam Bertambah Malam yang diterbitkan pada 1971 sampai yang terakhir Cas-cis-cus yang diterbitkan pada 1995.

Karir dan Petualangan di Luar Negeri

Setelah menyelesaikan pendidikannya di Yogyakarta, kegiatan berseni Putu Wijaya pun dilanjutkan ke Ibukota Jakarta, di sana dia bergabung dengan Teater Kecil dan Teater Populer. Selain juga bekerja sebagai redaktur majalah Ekspres.

Sayangnya, umur majalah Ekspres berakhir membuat dia pindah menjadi redaktur majalah Tempo pada periode 1971 sampai 1979. Di majalah mingguan yang masih eksis sampai saat ini itu, Putu mendirikan teater Mandiri pada 1974.

Sementara itu, saat masih berseragam majalah Tempo, Putu Wijaya sempat mendapatkan beasiswa untuk belajar drama di Jepang, tepatnya pada 1973. Sayangnya, dia sulit menyesuaikan diri dengan lingkungannya, Putu Wijaya hanya belajar di Negeri Samurai selama sepuluh bulan.

Petualangan Putu Wijaya di luar negeri dilanjutkan pada International Writing Programdi Iowa, Amerika Serikat pada 1975.

Selain itu, petualangannya di luar negeri juga berlanjut dalam hal bermain drama. Dia pernah beberapa kali bermain drama di luar negeri seperti dalam Festival Teater Sedunia di Nancy, Prancis pada 1974 danFestival Horizonte III di Berlin Barat, Jerman pada 1985.

Cuplikan film Telegram yang dirilis pada 2000. Film ini disutradarai oleh Slamet Rahardjo dan salah satu penulis skenarionya adalah Putu Wijaya. Pemeran film Telegram ini antara lain, Ayu Azhari, Sudjiwo Tejo, Dessy Ratnasari, dan Anne J. Coto (Sumber : rollfilmblog)

Lalu, teater Mandiri yang dibentuknya ketika bekerja di majalah Tempo juga dibawanya berkeliling Amerika dan Jepang untuk melakukan pementasan drama Yel.

Karirnya di majalah Tempo berakhir pada 1979, tetapi setelah itu Putu Wijaya hijrah ke majalah Zaman sebagai redaktur untuk periode 1979 sampai 1985. Nah, setelah dari majalah ZamanPutu Wijaya sempat berkarir sebagai pengajar di Negeri Paman Sam pada periode 1985 sampai 1988. [JNS]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *