DEADLINE, Mengorek Fakta Masa Lalu

Kisah Luke Skywalker yang ternyata anak dari Darth Vader dalam film Star Wars seolah menjadi alur cerita yang populer nan drama. Pasalnya, Alur serupa juga diceritakan dalam secuil cerita dari animasi Toy Story, ketika ada fakta kalau ayah Buzz Lightyear adalah Emperor Zurg.

Cerita takdir seorang yang harus bertarung dengan antagonis utama, tetapi ternyata yang dilawannya itu adalah ayah kandung sendiri menjadi drama menarik yang tidak lekang oleh waktu.

Selain kisah-kisah itu, dalam novel Deadline karya Sandra Brown pun mengambil alur yang hampir serupa. Namun, Sandra membuat kisah pertempuran antara ayah dan anak lebih bervariasi, tidak monoton seperti kisah lawas yang disebut di awal tulisan.

Dawson Scott, wartawan yang baru selesai meliput peperangan di Afganistan selama beberapa bulan. Setelah kembali ke Amerika Serikat (AS), pucuk pimpinan manajemen redaksi kantornya mengalami perubahan.

Harriet maju menjadi pemimpin redaksi di kantor Dawson, mereka berdua memiliki banyak tidak kecocokan. Tokoh utama dari karya Sandra ini pun benar-benar dalam kondisi sulit, setelah lelah secara fisik dan mental karena melewati masa sulit di Afganistan, dia harus berhadapan dengan bos yang kurang cocok dari segi komunikasi.

Hal itu membuat Dawson kerap meminum obat penenang untuk sekedar membuatnya bisa tertidur lebih nikmat.

Buruknya hubungan Dawson dan Harriet pun memuncak ketika sang pemimpin redaksi mengirim si tokoh utama itu untuk meliput sesuatu hal yang dianggap tidak penting.

Di tengah kegundahan Dawson itu, Headly, ayah angkatnya memberikan informasi yang bisa dijadikan isu berita menarik. Informasi yang terus diberikan Headly kepada anak angkatnya itu adalah pengadilan kasus pembunuhan Jeremy Weeson oleh Willard Strong.

Dawson pun memilih bolak-balik pengadilan dan menyelidiki setiap pelaku yang terlibat pada kasus yang diberitahu ayah angkatnya tersebut.

Deadline ini memiliki alur cerita maju mundur antara masa lalu yang disebut pada 1976 dan masa saat ini. Pembaca pun dibuat terus penasaran dengan benang merah antara masa lalu dengan masa saat ini.

Latar cerita pada 1976 diambil dari buku harian istri penjahat kelas kakap yang buron berpuluh-puluh tahun yakni, Carl Wesson.

Cerita ini memiliki jenis drama yang cukup cepat dan mengarah ke kisah aksi karena dari percintaan dan baku tembak menjadi bumbu menengangkan untuk pembaca.

Hanya saja, Sandra seperti kurang riset dalam sistem kerja di media atau memang kerja di media AS seperti digambarkan sang penulis.

Dawson digambarkan sebagai wartawan senior yang terjebak dalam sebuah kasus untuk waktu yang lama. Harriet pun menunggu hasil berita yang sudah dilisting oleh Dawson dalam cukup waktu lama.

Namun, seolah tidak ada tenggat waktu atau deadline seperti judul novel ini. Semuanya terlalu imajinatif yang subjektif kepada kisah Dawson, di mana cerita konfliknya harus diluruskan tanpa ada hambatan seperti tenggat waktu berita yang sedang dia garap.

Meskipun ada tekanan dari Harriet, tetapi pada kenyataannya pemimpin redaksinya itu tetap menunggu tanpa ada tenggat waktu. [SRY]

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *