J.K ROWLING, Menciptakan Penyihir Tanpa Sihir

Harry Potter bisa disebut menjadi salah satu novel fantasi legendaris di dunia. Sejak awal terbit sampai saat ini, cerita tentang dunia penyihir itu sudah terjual hampir 450 juta kopi di seluruhan dunia.

Namun, bagaimana kisah J.K Rowling dalam menulis dan menerbitkan novel Harry Potter? apakah Rowling membuatnya seperti hanya tinggal mengucapkan mantra sihir seperti cerita dalam novelnya?

Ternyata tidak semudah tokoh khayalan Harry Potter dalam menyebutkan mantra sihir. Dalam menerbitkan karya fenomenal itu, Rowling membutuhkan waktu bertahun-tahun. Selain itu, karyanya itu sempat enggan dilirik oleh agen penerbitan untuk membantu proses cetak.

Berawal dari 1990, Rowling mendapatkan insipirasi untuk menulis kisah sang penyihir ketika sedang menunggu kereta yang mengalami keterlambatan di Manchester, saat itu dia ingin menuju ke stasiun Kings’s Cross di London.

Kemudian, saat pindah ke Edinburgh, Skotlandia pada 1993, Rowling sudah menyelesaikan tiga bab pertama seri  Harry Potter Philosopher’s Stone in her suitcase. Ketika mencapai tahap ini, dia sempat melahirkan anak perempuannya, Jessica.

Ketika sedang mengasuh Jessica, Rowling masih menyempatkan diri untuk menulis kisah kelanjutan Harry Potter. Dia menuangkan imajinasinya ke proyek cerita Harry Potter sambil menikmati minuman dan cemilan beberapa kafe di Edinburgh.

“Terlalu sepi menulis sendirian di rumah, dengan berada di kafe, saya merasa seperti punya banyak teman. Soalnya, banyak orang yang mengunjungi kafe,” ujarnya seperti dikutip BBC Indonesia pada Jumat (21/7).

Dalam lima tahun sejak 1990, Rowling kerap menulis cerita Harry Potter lewat tulisan tangan. Dia pun menghabiskan ribuan lembar kertas untuk menciptakan karya sang penyihir fenomenal tersebut.

Sebelum didaulat sebagai salah satu penulis terkaya di Inggris, Rowling sempat mengalami masa-masa sulit dalam hidupnya. Dia pun hanya bergantung kepada tunjangan negara untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Keadaan pun tidak langsung berubah ketika dia merampungkan karya Harry Potternya.

seri pertama novel Harry Potter, the Philosopher’s Stone sumber foto: Wikipedia

Saat karya Harry Potter itu rampung, dia langsung mengontak semua agen penerbit yang ada di Inggris, tetapi sayang Rowling belum beruntung karena hampir semua agen yang dikontak menolak untuk membantu menerbitkan kisah sang penyihir tersebut.

“Kala itu, banyak sekali yang menolak naskah Harry Potter saya,” kenangnya.

Namun, ada satu agen penerbitan yang mau membantu Rowling untuk menerbitkan karyanya tersebut. Agen itu mengantarkan naskah Harry Potter ke penerbit Bloomsbury.

Akhirnya, pada 26 Juni 1997, novel pertama Harry Potter resmi dijual di berbagai toko buku di Negeri Ratu Elizabeth tersebut.

Waktu melihat buku berjudul Harry Potter mulai bermunculan di Inggris, Rowling mengaku begitu bahagia dan menjadi salah satu momen terbaik sepanjang hodupnya.

Baru beberapa waktu muncul di semua toko buku Inggris, novel Harry Potter seri pertama karya Rowling itu langsung melejit menempati posisi teratas daftar buku laris. Tren itu pun berlanjut kepada enam seri novel Harry Potter berikutnya dari Chamber of Secret sampai Deathly Hallows.

Salah satu adegan film Harry Potter terakhir berjudul Deathly Hallows. Sumber foto : old.keepo

Walaupun terkesan mengejutkan, tetapi bila melihat dari sisi latar belakang Rowling, kesuksesan ini sebenarnya sudah bisa diprediksi. Pasalnya, perempuan itu memang punya hobi dan passion dalam dunia menulis.

Terkait dunia tulis menulis, Rowling mengaku sejak belia dia sudah sempat menyelesaikan novelnya pada usia 11 tahun.

“Kuncinya adalah rajin menulis, jangan pernah bosan untuk terus mengasah kemampuan,” ujarnya.

Meskipun, novel Harry Potter telah mengubah hidupnya menjadi lebih baik dan digemari di seluruh dunia. Rowling menegaskan tidak akan ada seri baru penyihir berkaca mata itu ke depannya. [SRY/BBC]

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *